masukkan script iklan disini
Jemaah Haji Asal Sumut Keluhkan Fasilitas di Arafah, Mulai dari Makanan Hingga Antrean Toilet
ARAFah – lensa Nusantara biz id Permasalahan klasik yang kerap dialami jemaah haji Indonesia saat berada di Arafah kembali dikeluhkan pada musim haji 2026. Sejumlah jemaah asal Sumatera Utara (Sumut) mengaku masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari makanan yang tidak sesuai selera, antrean toilet yang panjang, hingga kondisi lingkungan tenda yang becek dan kurang nyaman.
Keluhan tersebut disampaikan seorang jemaah asal Sumut yang enggan disebutkan namanya melalui pesan WhatsApp, Selasa (26/5/2026), sekitar lima jam sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah.
“Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini didengar oleh Kementerian Haji dan Umrah supaya tidak terulang lagi di tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu persoalan yang cukup dirasakan jemaah adalah menu makanan yang dinilai kurang cocok dengan cita rasa lidah Indonesia. Meski nasi yang disediakan merupakan nasi khas Indonesia, lauk yang diberikan memiliki cita rasa berbeda sehingga membuat sebagian jemaah kurang berselera makan.
“Kadang masih bisa dimakan, tapi kadang memang sama sekali tidak selera. Nasinya Indonesia, tapi lauknya beda resep. Kalau makanan di hotel masih bisa diterima,” katanya.
Selain persoalan makanan, fasilitas toilet juga menjadi sorotan. Ia menyebut jumlah toilet yang tersedia tidak sebanding dengan banyaknya jemaah yang berada di lokasi Arafah. Kondisi tersebut membuat antrean panjang tidak dapat dihindari, terutama bagi jemaah lanjut usia.
“Antrean toilet bisa hampir satu jam. Apalagi banyak jemaah lansia. Air juga berserakan di mana-mana. Ada jemaah yang sampai ganti pampers di luar area toilet karena tidak tahan menunggu terlalu lama,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi itu juga menimbulkan aroma tidak sedap di sekitar area tenda. Selain itu, air yang meluber dari sekitar toilet menyebabkan pelataran tenda menjadi becek dan berlumpur karena permukaan tanah yang belum dilapisi material pendukung.
“Pelatarannya masih tanah, jadi becek dan lengket di sandal atau alas kaki. Harusnya bisa diberi batu atau kerikil supaya tidak terlalu kotor,” keluhnya lagi.
Tidak hanya itu, jemaah juga mengeluhkan fasilitas minuman yang dinilai belum lengkap. Meski pihak penyelenggara menyediakan teh di tenda, namun gelas untuk minum disebut tidak tersedia.
“Tehnya ada disediakan, tapi gelasnya tidak ada. Sedangkan gelas juga tidak dibawa dari hotel,” katanya.
Keluhan-keluhan tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pihak penyelenggara haji, khususnya terkait peningkatan pelayanan dan fasilitas bagi jemaah Indonesia di Arafah. Pasalnya, persoalan serupa disebut hampir selalu terjadi setiap tahun dan belum sepenuhnya terselesaikan hingga musim haji 2026.
Para jemaah berharap ke depan fasilitas di Arafah dapat lebih memadai, terutama dalam hal kebersihan, kenyamanan, serta ketersediaan sarana umum yang layak bagi seluruh jemaah, khususnya bagi para lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih selama menjalankan rangkaian ibadah haji.(Tim)


