masukkan script iklan disini
Ketua FORWAPEN Desak Kasus Dugaan Keracunan MBG di Berastagi Diusut Tuntas
MEDAN — lensa nusatara biz id Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendapat perhatian dari Forum Wartawan Pendidikan Nasional (FORWAPEN).
Ketua FORWAPEN, Rules Gajah, S.Kom, menyatakan keprihatinan atas kejadian tersebut dan mendesak pemerintah serta pihak terkait melakukan investigasi secara menyeluruh, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami menyayangkan kejadian ini dan mendesak agar kasus ini diusut tuntas. Keselamatan pelajar adalah prioritas utama. Tidak boleh ada kelalaian yang mengancam nyawa anak-anak bangsa,” tegas Rules Gajah di Medan, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, penanganan kasus tersebut tidak cukup hanya dengan pemberian sanksi administratif. Investigasi harus mampu mengungkap secara terang penyebab kejadian, mulai dari proses pengadaan bahan pangan, kualitas dan keamanan bahan makanan, proses memasak, penyimpanan, pengemasan, distribusi, hingga makanan dikonsumsi oleh para siswa.
Kepala SPPG Diusulkan PDTH
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, saat menjenguk salah seorang korban yang masih menjalani perawatan intensif di RSU Haji Medan, Minggu (16/8/2026), menyampaikan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan MBG di Berastagi telah dikenai suspensi berat.
Sudaryono juga menyatakan Kepala SPPG tidak hanya akan dicopot dari jabatannya, tetapi akan diajukan untuk pemecatan dengan tidak hormat (PDTH) melalui Badan Kepegawaian Negara apabila yang bersangkutan berstatus ASN.
“Yang pertama dapurnya disuspen berat. Kemudian Kepala SPPG-nya yang sanksi. Bukan hanya dicopot, tapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat melalui Badan Kepegawaian Negara status ASN-nya,” ujar Sudaryono.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kepala SPPG Karo Berastagi Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, diketahui bernama Eky Faisal Zendrato.
Meski demikian, proses investigasi terhadap SPPG tersebut masih berjalan. Penyebab pasti dugaan keracunan massal yang terjadi di SMA Negeri 1 Berastagi pada Kamis (13/8/2026) masih menunggu hasil pemeriksaan tim gabungan.
FORWAPEN: Jangan Hanya Mencari Siapa yang Salah
Rules Gajah menilai langkah tegas pemerintah penting sebagai bentuk pertanggungjawaban. Namun, menurutnya, masyarakat juga membutuhkan keterbukaan mengenai hasil investigasi.
“Yang paling penting bukan hanya siapa yang diberi sanksi. Publik perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, di mana letak kegagalannya, dan bagaimana pemerintah memastikan kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa program MBG menyangkut kepentingan anak-anak sekolah sehingga standar keamanan pangan harus menjadi aspek utama yang tidak dapat ditawar.
FORWAPEN juga meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG, khususnya berkaitan dengan standar operasional prosedur (SOP), kebersihan dapur, kompetensi petugas, rantai dingin, pengujian bahan pangan, masa simpan makanan, serta mekanisme pengawasan sebelum makanan didistribusikan kepada siswa.
BGN Ingatkan Seluruh SPPG
Dalam kesempatan tersebut, Sudaryono juga mengingatkan seluruh SPPG di Indonesia agar bekerja lebih hati-hati. Menurutnya, kesalahan dalam pengelolaan makanan dapat berdampak langsung terhadap keselamatan manusia.
Ia menegaskan, petugas yang merasa tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya harus berani mengundurkan diri daripada mempertaruhkan keselamatan anak-anak.
Rules Gajah menilai pernyataan tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara nasional terhadap pelaksanaan program MBG.
“Ini harus menjadi pelajaran bagi seluruh penyelenggara MBG. Jangan sampai orientasi pada target distribusi mengalahkan aspek keselamatan dan kualitas makanan,” katanya.
Kondisi Korban Terus Dipantau
Sementara itu, Sudaryono menyampaikan bahwa korban yang masih menjalani perawatan di RSU Haji Medan dilaporkan mengalami perkembangan kondisi yang membaik, meskipun tetap berada dalam pemantauan intensif tim medis.
Perawatan dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing pasien dan hasil evaluasi dokter, termasuk pemantauan kondisi kesehatan serta pemberian obat sesuai kebutuhan medis.
Sudaryono berharap kondisi para korban dapat kembali normal dalam satu hingga dua hari berikutnya. Namun, perkembangan kesehatan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan evaluasi tim medis.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang telah memfasilitasi pembiayaan pengobatan para korban.
Transparansi Menjadi Kunci
FORWAPEN berpandangan bahwa masyarakat, khususnya orang tua siswa, memiliki hak untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai keamanan pelaksanaan program MBG.
Karena itu, Rules Gajah meminta pemerintah membuka hasil investigasi kepada publik secara proporsional, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium apabila telah tersedia, tanpa mengganggu proses hukum maupun privasi para korban.
“Orang tua menitipkan anak-anaknya kepada sekolah. Ketika program pemerintah masuk ke lingkungan pendidikan, maka keamanan dan keselamatan siswa harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Menurutnya, kepercayaan publik terhadap program MBG hanya dapat dipertahankan apabila pemerintah menunjukkan transparansi, ketegasan, serta perbaikan sistem yang nyata.
“Jangan sampai kasus ini hanya menjadi berita beberapa hari. Harus ada evaluasi, harus ada perbaikan sistem, dan harus ada jaminan bahwa makanan yang diterima anak-anak benar-benar aman,” pungkas Rules Gajah, S.Kom.
FORWAPEN menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu keselamatan peserta didik, transparansi program pendidikan, serta akuntabilitas penyelenggaraan program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan kepentingan anak-anak.(Ril)


