masukkan script iklan disini
AMPHIBI dan KTHn AMPHIBI Percut Tanam 75.000 Mangrove, Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dan Pulihkan Pesisir Percut
DELI SERDANG – Lensa Nusantara biz id Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni, Lembaga Lingkungan Hidup AMPHIBI bersama Kelompok Tani Hutan Nelayan (KTHn) AMPHIBI Percut melaksanakan aksi penanaman 75.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Kegiatan penanaman berlangsung selama 14 hari, mulai 1 hingga 14 Juni 2026, sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir, mengurangi abrasi, serta memperkuat ketahanan masyarakat nelayan terhadap dampak perubahan iklim.
Ketua KTHn AMPHIBI Percut, A. Sayuti, mengatakan penanaman mangrove merupakan langkah strategis untuk memulihkan ekosistem pesisir sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan ekologis bagi masyarakat sekitar.
"Mangrove yang kita tanam hari ini adalah benteng hidup yang melindungi desa dari ancaman abrasi dan banjir rob. Selain itu, hutan mangrove menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut yang mendukung kehidupan nelayan di masa mendatang," ujarnya.
Menurut A. Sayuti, kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari program rehabilitasi mangrove yang sebelumnya dilaksanakan melalui kerja sama PT Freeport Indonesia, Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut (PPKPL) Ditjen PPKL KLH/BPLH, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan AMPHIBI pada Agustus 2024.
Dalam program tersebut, sebanyak 250.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata ditanam di kawasan muara sungai dan pesisir Pantai Desa Percut dengan cakupan lahan sekitar 25 hektare.
Namun, upaya rehabilitasi tersebut mengalami kendala serius pada awal tahun 2025. Saat tanaman mangrove mulai tumbuh dengan baik dan telah memiliki 4 hingga 8 helai daun, kawasan penanaman diterjang kiriman sampah dalam jumlah besar yang berasal dari hulu Sungai Percut.
Meskipun area penanaman telah dilindungi menggunakan pagar jaring nilon di sekeliling lokasi, volume sampah yang sangat besar menyebabkan pagar pengaman roboh dan menghancurkan tanaman mangrove yang sedang tumbuh.
Berdasarkan hasil investigasi tim AMPHIBI, sumber sampah tersebut diduga berasal dari pelepasan sampah yang terbawa arus dari kawasan Bendungan Sidoras yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari muara Sungai Percut.
Akibat kejadian tersebut, sekitar 200.000 bibit mangrove yang telah ditanam mengalami kerusakan dan mati.
Ketua Umum AMPHIBI yang juga Ketua KTHn AMPHIBI Percut, Agus Salim Tanjung (AST), menyayangkan peristiwa tersebut dan menilai perlu adanya penanganan sampah yang lebih serius di wilayah hulu sungai.
"Seharusnya sampah yang masuk ke area Bendungan Sidoras dikelola dan diangkut terlebih dahulu. Jangan sampai dilepas begitu saja hingga terbawa ke hilir dan merusak ekosistem pesisir serta tanaman mangrove yang telah ditanam masyarakat," tegas AST.
Menurutnya, AMPHIBI telah melakukan audiensi dan klarifikasi dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan wilayah sungai. Dalam pertemuan tersebut, AMPHIBI diterima oleh Wanda Surbakti dan M. Yudi.
Pada kesempatan itu, AMPHIBI menyampaikan sejumlah temuan lapangan serta meminta adanya langkah konkret untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Namun hingga saat ini, pihak BBWS Sumatera II disebut belum memberikan jawaban maupun tindak lanjut yang jelas terkait persoalan tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan pesisir, AMPHIBI bersama KTHn AMPHIBI Percut dan masyarakat nelayan setempat terus melakukan upaya pemulihan secara mandiri.
Pada Agustus 2025, sebanyak 65.000 bibit mangrove kembali ditanam di kawasan terdampak. Selanjutnya pada Januari 2026 dilakukan penanaman tambahan sebanyak 50.000 propagul mangrove.
Dalam momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, AMPHIBI kembali melaksanakan penanaman 75.000 propagul mangrove yang berasal dari sumber bibit lokal hasil pemanenan kawasan hutan mangrove di Desa Percut.
Jenis mangrove yang ditanam meliputi Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata, yang dinilai sangat adaptif terhadap kondisi pasang surut dan karakteristik pesisir Pantai Percut.
Selain penanaman, AMPHIBI juga menyiapkan program pemeliharaan dan monitoring selama enam bulan ke depan guna memastikan tingkat keberhasilan dan kelangsungan hidup bibit yang telah ditanam.
AST menegaskan bahwa aksi rehabilitasi mangrove ini tidak hanya bertujuan memulihkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mendukung program nasional dalam penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), mitigasi perubahan iklim, serta peningkatan cadangan karbon melalui konservasi ekosistem pesisir.
"Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Penanaman mangrove memiliki peran penting dalam menyerap karbon, menjaga keanekaragaman hayati, melindungi garis pantai, serta mendukung target pemerintah dalam pengembangan Nilai Ekonomi Karbon (NEK)," jelasnya.
AMPHIBI berharap aksi penanaman mangrove ini dapat menjadi pemicu lahirnya kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga serta memulihkan ekosistem pesisir di Sumatera Utara.
Melalui semangat Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, AMPHIBI mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga lingkungan hidup sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang, sekaligus memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global.
(Rill)


