• Jelajahi

    Copyright © LENSA NUSANTARA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    adv

    Ads

    Iklan

    Ketika Air Mata Masdar Tambusai Bicara: Getaran Batin Melayani Tamu Allah di Tanah Suci

    Redaktur
    Kamis, 25 Juni 2026, 05:31 WIB Last Updated 2026-06-25T12:31:11Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Ketika Air Mata Masdar Tambusai Bicara: Getaran Batin Melayani Tamu Allah di Tanah Suci


    MEDAN —lensa Nusantara biz id Wawancara itu awalnya berlangsung seperti biasa.

    Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan tenang oleh Masdar Tambusai, Petugas Haji Daerah (PHD) Kloter 17 Debarkasi Medan. Ia menceritakan pengalaman mendampingi jamaah haji asal Sumatera Utara selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

    Dengan nada santai, ia menjelaskan berbagai aspek pelayanan yang diberikan kepada jamaah. Mulai dari ketersediaan konsumsi, layanan kesehatan, akomodasi, hingga pendampingan ibadah yang berjalan dengan baik.

    Menurutnya, secara umum pelaksanaan ibadah haji tahun ini berlangsung lancar. Jamaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan nyaman dan berbagai kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan baik.

    Namun suasana mendadak berubah ketika pembicaraan beralih pada satu hal yang jauh lebih mendalam: pengalaman spiritual selama melayani tamu-tamu Allah.

    Belum selesai pertanyaan diajukan, suara Masdar mulai bergetar.

    Kalimat yang hendak disampaikannya seakan tertahan di tenggorokan.

    Matanya berkaca-kaca.

    Beberapa detik kemudian, sesenggukan kecil mulai terdengar.

    Air mata perlahan mengalir.

    Wawancara pun terhenti.

    Melihat kondisi itu, pewawancara memilih menghentikan pertanyaan dan memberikan waktu kepadanya untuk menenangkan diri.

    "Silakan saja menangis, Pak. Tidak apa-apa. Luapkan saja isi hati," ucap pewawancara.

    Saat itu ruangan mendadak hening.

    Namun keheningan tersebut justru berbicara lebih banyak daripada rangkaian kalimat yang panjang.

    Ada pengalaman yang memang tidak selalu mampu diterjemahkan oleh kata-kata.

    Setelah beberapa saat, Masdar mencoba menguasai emosinya. Dengan suara yang masih bergetar, ia mengungkapkan bahwa menjadi petugas haji menghadirkan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

    "Sebagai petugas haji ada kebahagiaan tersendiri yang luar biasa. Kita senang ketika jamaah bisa beribadah dengan nyaman dan tenang. Kita puas ketika kebutuhan mereka tersedia dengan baik. Kita melihat mereka makan dengan gembira, melaksanakan ibadah dengan lancar, dan merasakan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka," ujarnya.

    Bagi Masdar, kepuasan terbesar bukanlah penghargaan ataupun pengakuan.

    Kebahagiaan itu justru hadir ketika melihat para jamaah dapat menunaikan rukun Islam kelima dengan khusyuk dan penuh ketenangan.

    Ketika seorang jamaah tersenyum karena mendapatkan pelayanan yang baik.

    Ketika seorang lansia berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan aman.

    Ketika rombongan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat.

    Di situlah seorang petugas haji merasakan kebahagiaan yang mungkin tidak pernah tercatat dalam laporan ataupun statistik resmi.

    Namun saat ditanya lebih jauh mengenai pengalaman spiritual yang dirasakannya selama bertugas di Tanah Suci, Masdar kembali terdiam.

    Ia mengaku tidak memiliki cukup kata untuk menjelaskannya.

    "Ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Perasaan itu melampaui kata-kata," katanya lirih.

    Menurutnya, pengalaman spiritual dalam ibadah haji hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah merasakannya secara langsung.

    Perasaan itu hadir sebagai getaran batin yang menyentuh bagian terdalam hati manusia.

    Sesuatu yang tidak dapat diukur dengan logika.

    Tidak dapat dihitung dengan angka.

    Dan tidak mampu dijelaskan dengan kalimat paling indah sekalipun.

    "Itulah sebabnya banyak orang yang sudah berhaji atau berumrah selalu ingin kembali lagi. Karena ada perasaan yang tidak bisa diterangkan. Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskan pengalaman itu," tuturnya.

    Masdar kemudian mengenang momen saat pertama kali memandang Ka'bah.

    Bangunan suci yang selama ini hanya dilihat melalui gambar, buku, atau layar televisi, tiba-tiba berdiri nyata di hadapan matanya.

    Pada saat itulah air mata mengalir tanpa mampu dibendung.

    Bukan karena kesedihan.

    Bukan pula karena kelelahan.

    Melainkan karena hati merasakan sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya.

    "Ketika melihat Ka'bah, kita menangis. Ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW, kita menangis. Bahkan ketika menceritakannya kembali seperti sekarang, air mata itu ingin keluar lagi," katanya.

    Kalimat itu beberapa kali terputus.

    Bukan karena ia lupa apa yang ingin disampaikan.

    Tetapi karena emosi yang kembali menyeruak dari relung hati yang paling dalam.

    Di tengah era ketika hampir segala sesuatu diukur dengan angka, target, statistik, dan laporan kinerja, kisah Masdar menjadi pengingat bahwa ibadah haji memiliki dimensi yang jauh melampaui perjalanan fisik.

    Di sana ada perjalanan hati.

    Ada kerinduan yang sulit dijelaskan.

    Ada harapan yang dipanjatkan dalam diam.

    Ada kepasrahan yang tumbuh di hadapan kebesaran Allah SWT.

    Dan ada perjumpaan spiritual yang sering kali tak mampu diterjemahkan oleh bahasa manusia.

    Mungkin karena itulah air mata Masdar menjadi begitu bermakna.

    Ia tidak menangis karena lelah bertugas.

    Tidak pula karena beratnya tanggung jawab yang dipikul selama mendampingi jamaah.

    Air mata itu lahir dari rasa syukur yang mendalam karena pernah diberi kesempatan menjadi bagian kecil dari pelayanan terhadap tamu-tamu Allah.

    Sebab dalam banyak kesempatan, ada pengalaman yang tidak membutuhkan penjelasan panjang.

    Air mata yang tulus sering kali telah mengatakan segalanya.

    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini