• Jelajahi

    Copyright © LENSA NUSANTARA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    adv

    Ads

    Iklan

    KTH Amphibi Soroti Dugaan Limbah Kimia di Sungai Percut, Nelayan dan Petani Terancam Merugi

    Redaktur
    Senin, 29 Juni 2026, 21:16 WIB Last Updated 2026-06-30T04:16:38Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    KTH Amphibi Soroti Dugaan Limbah Kimia di Sungai Percut, Nelayan dan Petani Terancam Merugi

    PERCUT SEI TUAN, –lensa Nusantara Warga di tiga desa di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, dikejutkan dengan munculnya busa putih tebal yang diduga berasal dari limbah kimia di aliran Sungai Percut, Selasa (30/6/2026). Busa tersebut tidak hanya menutupi kawasan muara sungai, tetapi juga telah masuk ke saluran irigasi dan menggenangi areal persawahan di Desa Pematang Lalang, Desa Percut, dan Desa Cinta Rakyat.

    Fenomena yang menyerupai hamparan awan putih di atas permukaan air itu mulai terlihat sekitar pukul 03.00 WIB. Hingga pagi hari, busa masih tampak mengapung padat dan terbawa arus dari kawasan estuari menuju lahan pertanian masyarakat.

    Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Amphibi Percut, A. Sayuti, mengatakan kondisi pencemaran tersebut terpantau secara langsung oleh warga dan pegiat lingkungan. Dokumentasi yang diambil pada pukul 07.14 WIB di titik koordinat 3°42'56,418"N dan 98°46'55,494"E memperlihatkan busa menutupi sebagian besar permukaan air di kawasan muara Sungai Percut.

    “Busa terlihat sangat tebal dan mengapung dari kawasan estuari hingga masuk ke jaringan irigasi pertanian. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar karena dampaknya tidak hanya terhadap ekosistem sungai, tetapi juga terhadap aktivitas pertanian dan perikanan masyarakat,” ujar Sayuti.

    Ketua Umum KTH Amphibi, Agus Salim Tanjung (AST), menyebut peristiwa tersebut sebagai ancaman serius bagi lingkungan pesisir dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di kawasan Sungai Percut.
    Menurutnya, keberadaan busa dalam jumlah besar berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, terutama di kawasan hutan mangrove yang selama ini menjadi benteng alami pesisir dari abrasi dan banjir rob.

    Hutan Mangrove Terancam
    Agus menjelaskan, kawasan muara Sungai Percut selama bertahun-tahun menjadi lokasi rehabilitasi dan penanaman mangrove yang dilakukan masyarakat bersama KTH Amphibi. Ribuan bibit mangrove telah ditanam untuk memperkuat ketahanan pesisir sekaligus menjadi habitat berbagai biota perairan.
    Namun kini, keberadaan busa yang menutupi permukaan air dikhawatirkan menghambat pertukaran oksigen dan mengganggu fungsi akar napas mangrove.

    “Ini merupakan ancaman nyata terhadap kelestarian mangrove. Jika pencemaran berlangsung terus-menerus, bukan tidak mungkin tanaman mangrove yang telah kami rawat selama bertahun-tahun mengalami kerusakan. Padahal mangrove memiliki peran penting melindungi pesisir dan menjadi sumber kehidupan masyarakat nelayan,” kata Agus.

    Ia menambahkan, sedikitnya 300 kepala keluarga nelayan yang tinggal di kawasan pesisir tiga desa tersebut sangat bergantung pada keberadaan ekosistem mangrove untuk menjaga produktivitas perikanan dan melindungi kawasan permukiman dari dampak perubahan cuaca ekstrem.

    Sawah Warga Terpapar Busa
    Selain mengancam kawasan mangrove, busa yang diduga mengandung zat surfaktan atau limbah industri tersebut juga telah memasuki areal persawahan warga melalui saluran irigasi.

    Hamparan busa terlihat menggenangi petak-petak sawah di Desa Pematang Lalang, Desa Percut, dan Desa Cinta Rakyat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya penurunan kualitas tanah, terganggunya pertumbuhan tanaman padi, hingga risiko gagal panen apabila kandungan zat pencemar terbukti berbahaya.

    “Petani sangat cemas karena busa sudah masuk ke sawah. Jika terbukti mengandung bahan kimia berbahaya, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari menurunnya produktivitas lahan hingga ancaman terhadap ketahanan pangan masyarakat,” ujar Agus.

    Menurutnya, pencemaran tersebut tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi ribuan warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perikanan.

    Desak Pemerintah Bertindak Cepat
    Menyikapi kondisi tersebut, KTH Amphibi mendesak pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk segera melakukan langkah-langkah penanganan dan investigasi secara menyeluruh.

    KTH Amphibi meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian Sumatera Utara, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, serta Pemerintah Kabupaten Deli Serdang untuk segera turun ke lokasi guna memastikan sumber dan dampak pencemaran.
    Adapun tuntutan yang disampaikan KTH Amphibi meliputi:

    Segera mengambil sampel air, busa, sedimen, dan tanah di seluruh lokasi terdampak untuk dilakukan pengujian laboratorium.

    Melakukan investigasi dan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap aktivitas industri maupun sumber pencemar lain di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Percut.

    Mengumumkan hasil pemeriksaan kepada publik secara transparan.
    Menindak tegas pihak yang terbukti melakukan pencemaran lingkungan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Melakukan pemulihan lingkungan serta memberikan kompensasi kepada petani dan nelayan apabila terbukti mengalami kerugian akibat pencemaran tersebut.
    “Kami berharap pemerintah segera hadir dan mengambil tindakan nyata. Jangan sampai kerusakan lingkungan ini semakin meluas dan masyarakat kembali menjadi korban. Sungai Percut merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama,” tegas Agus Salim Tanjung.

    Hingga berita ini disampaikan, belum terdapat keterangan resmi dari instansi berwenang mengenai penyebab munculnya busa maupun hasil pengujian laboratorium terkait material yang mencemari Sungai Percut. Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan penanganan cepat untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap lingkungan, pertanian, dan kehidupan warga di kawasan pesisir Percut Sei Tuan.
    (Ril)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini